Lynx, yang sedang berbicara dengan Kael dan yang lainnya, tiba-tiba terdiam. Wajahnya berubah serius, dan matanya menatap jauh ke arah cakrawala, seolah menangkap sesuatu yang tidak terlihat oleh orang lain.

"Ada apa, Lynx?" tanya Kael, yang segera menyadari perubahan sikap Lynx. Suaranya terdengar cemas, dan matanya menatap tajam ke arah Lynx, mencoba memahami apa yang terjadi.

"Aku harus pergi. Ling Mei dalam bahaya," kata Lynx singkat sambil bersiap untuk beranjak. Gerakannya cepat dan penuh ketegasan.

"Ling Mei? Kenapa dia? Darimana kamu tahu dia dalam bahaya? Apa kamu mengenalnya?" tanya Karim dengan nada penasaran. Alisnya berkerut, dan matanya menyipit, mencoba menangkap setiap petunjuk dari Lynx.

"Aku tidak bisa menceritakannya sekarang. Keadaannya genting. Bawalah ini," kata Lynx sambil menyerahkan selembar kertas formasi yang telah dia siapkan sebelumnya. Tangannya bergerak cepat, dan matanya tidak lepas dari arah yang dia tuju.

"Kepala suku, di mana kita akan bertemu?" tanya Arkha, suaranya tegas namun tetap penuh hormat. Dia melangkah mendekat, mencoba memahami situasi yang mendadak berubah.

"Aku akan menemukan kalian..." Lynx belum sempat menyelesaikan kalimatnya ketika Kael memotongnya.

"Bawalah ini dan aktifkan segera saat di perjalanan dengan menyalurkan Qi. Berangkatlah!" kata Kael dengan cepat sambil memberikan artefak seukuran tangan bayi, suaranya tegas dan penuh urgensi. Dia tidak ingin memperlambat Lynx, apalagi dalam keadaan seperti ini.

Lynx menganggukkan kepala dengan cepat, dan tanpa basa-basi lagi, tubuhnya melesat seperti anak panah yang dilepaskan dari busur. Dalam sekejap, dia sudah menghilang dari pandangan, meninggalkan jejak angin yang berdesir pelan.

"Kepala suku memang hebat. Dengan ini, kita pasti akan berhasil menyelamatkan suku Surya lainnya," kata Karim, suaranya penuh keyakinan. Matanya masih menatap ke arah Lynx menghilang, seolah mencoba menangkap sisa-sisa bayangan yang ditinggalkan.

"Kael, yang kamu beri tadi, bukankah itu milikmu yang dibuatkan Lala?" tanya Arkha, yang mengenali benda yang diberikan kepada Lynx. Suaranya penuh keheranan, dan matanya menatap Kael dengan penuh pertanyaan.

"Lynx lebih membutuhkannya daripadaku. Bukankah kalian dengar sendiri ceritanya? Dia ingin menyembunyikan kekuatannya, tapi keadaan selalu memaksanya menunjukkan kekuatannya, dengan alat itu, dia akan sangat terbantu," kata Kael, suaranya tenang namun penuh makna. Matanya berbinar, seolah dia tahu sesuatu yang tidak diungkapkan.

"Kamu benar. Di dunia ini, kekuatan kepala suku yang tidak dapat dijelaskan bisa dianggap ancaman oleh mereka. Tapi aku tidak mengerti, apa hubungannya benda itu dengan kekuatan kepala suku?" tanya Arkha, yang masih belum paham. Alisnya berkerut, dan matanya menatap Kael dengan penuh keingintahuan.

"Kelak kamu akan mengetahuinya," kata Kael sambil tertawa riang. Suaranya ringan, dan matanya berbinar-binar, seolah dia sedang menikmati sebuah rahasia yang hanya dia yang tahu.

Sementara itu, di perjalanan, Lynx bergerak dengan kecepatan yang luar biasa. Hatinya dipenuhi kecemasan, dan setiap langkahnya terasa seperti berlomba dengan waktu. Namun, ketika tiba di suatu tempat dekat Sekte Api Langit, sebuah formasi pelindung yang kuat menghalangi jalannya.

"Formasi yang sangat kuat. Orang biasa tidak akan bisa melewatinya," batin Lynx. Matanya menatap formasi itu dengan tajam, dan napasnya sedikit tersengal. "Maaf, aku harus menghancurkannya. Ling Mei dalam bahaya."

Tanpa ragu, Lynx melesat ke depan, menabrak formasi itu dengan kekuatan penuh. Formasi berbentuk kubah itu bersinar terang sebelum akhirnya hancur berantakan, dihancurkan oleh Lynx yang melintasinya dengan kekuatan yang luar biasa.

"Apa yang terjadi? Kenapa formasi Sangkar Naga Kegelapan hancur?" teriak Shen Mo, suaranya penuh kemarahan. Wajahnya memerah, dan matanya menyala dengan amarah yang tak terbendung. Kekuatan yang dia serap dari para anggota Sekte Api Langit terhenti, tapi jumlah tenaga spiritual yang sudah dia kumpulkan cukup untuk membawanya ke tingkat Immortal akhir.

"Bersiaplah, kita kedatangan tamu," kata Shen Mo kepada para anggotanya. Suaranya dingin dan penuh ancaman. Orang yang berhasil menghancurkan formasi Sangkar Naga Kegelapan bukanlah lawan yang bisa dianggap remeh. "Bunuh mereka semua, dan sisakan beberapa orang wanita untuk memaksa ketua sekte mereka bicara. Serahkan para wanita itu kepada ratusan pria anggota kita yang berjaga di luar sekte. Biarkan mereka menikmatinya jika ketua sekte masih bersikeras."

"Tunggu! Aku berjanji akan mengantarkan kalian. Jangan apa-apakan mereka!" teriak ketua sekte, suaranya penuh keputusasaan. Matanya menatap Shen Mo dengan harapan, sambil mencoba melindungi para muridnya yang ketakutan. Dia tahu, dia harus mengulur waktu sekaligus berusaha menyelamatkan mereka.

"Bagus, akhirnya kamu mengerti. Tapi aku tidak ingin dipermainkan lagi olehmu. Aku akan membunuh sebagian dari mereka sebagai pelajaran buatmu." Dari tangan Shen Mo, sebuah bola energi Qi besar terbentuk dan melesat dengan cepat menuju para murid yang sedang berusaha bertahan. Tubuh mereka terlihat lemah, hampir tidak mampu berdiri karena kekuatan mereka yang nyaris habis.

Namun, tiba-tiba bola energi itu berbalik arah, kembali menuju Shen Mo sebelum sempat menyentuh para murid. Dengan gerakan cepat, Shen Mo memukul bola energi itu, menyebabkan ledakan dahsyat yang mengguncang seluruh aula. Bangunan di sekitarnya hancur berantakan, debu beterbangan, dan suara gemuruh memenuhi udara. Anehnya, para murid terlihat tidak terluka, seolah ada kekuatan yang melindungi mereka.

Ketika debu mulai mengendap, sosok asing muncul di antara Shen Mo dan para murid. Sosok itu mengenakan pakaian aneh yang belum pernah dilihat oleh siapa pun di dunia kultivasi. Pakaiannya berwarna abu-abu metalik, menyatu dengan tubuhnya seperti lapisan pelindung yang kuat namun fleksibel. Sepatu, sarung tangan, dan penutup kepala yang bulat menutupi sebagian, membuat identitasnya samar.

"Siapa kau?" bentak Shen Mo, suaranya penuh kemarahan. Dia menduga sosok ini adalah orang yang telah menghancurkan Formasi Sangkar Naga Kegelapan. Tangannya mengepal, dan aura kekuatannya memancar dengan intens.

Sosok itu tidak menjawab. Shen Mo, yang semakin geram, segera memerintahkan kelima anak buahnya untuk menyerang. "Bunuh dia!"

Kelima grandmaster itu mengeluarkan pedang mereka, mengalirkannya dengan Qi, dan menyerang bersama-sama. Namun, dengan gerakan yang gesit dan presisi, sosok itu menghindari setiap serangan. Dalam sekejap, kelima grandmaster itu terjatuh, tidak sadarkan diri setelah menerima pukulan yang cepat dan mematikan.

Sosok itu menatap Ling Mei, yang terikat dan terlihat lemah. Matanya menyala dengan amarah yang membara. Dalam sekejap, sosok itu menghilang dari pandangan Shen Mo, yang bahkan sebagai Immortal tingkat akhir tidak mampu menangkap gerakannya.

"Li Wei, jagalah Ling Mei dengan baik." Tiba-tiba, suara itu terdengar di dekat Li Wei, sambil menyerahkan tubuh Ling Mei yang lemah.

"Xiao Ling..." Suara Li Wei bergetar, penuh haru. Meski tidak bisa mengenali sosok di depannya karena penampilannya yang aneh, dia tidak mungkin melupakan suara itu. Harapannya kembali membara, meski kebingungan menyelimuti pikirannya.

"Jangan sebut identitasku," bisik Lynx pelan, suaranya hampir tak terdengar. Dia segera berbalik, menghadap Shen Mo yang masih kebingungan. Shen Mo tidak bisa memahami bagaimana sosok ini bisa bergerak begitu cepat dan menyelamatkan Ling Mei tanpa dia merasakan aliran energi apa pun.

"Tidak mungkin orang di depanku hanya Forging Qi tingkat dua dengan penampilan seperti itu. Sepertinya dia menyembunyikan tingkat kultivasinya," batin Shen Mo, matanya menyipit penuh kecurigaan.

Lynx, yang mengenakan pakaian tempur berteknologi tinggi yang sudah di modifikasi sehingga hanya berfungsi sebagai pakaian biasa dengan perlindungan kuat, merasa lega. Pakaian ini adalah milik Kael, yang diberikan kepadanya sebagai alat untuk menyamarkan identitasnya. Ketika Lynx menghancurkan formasi, dia teringat pesan Kael untuk mengalirkan Qi ke artefak yang diberikan. Dalam sekejap, serat-serat logam melapisi tubuhnya, membentuk pakaian tempur yang sempurna dengan helm menutupi kepala dan matanya. Lynx berhenti sejenak, merasakan penampilan barunya yang terasa cukup keren baginya. Terlihat seperti baju baja namun lunak lembut seperti kain.

"Kael memang jenius. Dia memberikan pakaian ini agar tidak ada orang yang bisa mengenaliku," pikir Lynx, sambil mengepalkan tangan, siap menghadapi Shen Mo.

Shen Mo, yang semakin tidak sabar, mengerahkan kekuatannya. "Aku tidak peduli siapa kau! Kau akan mati di sini!"

